Category Archives: Music

Mereka Tahu Bagaimana Merayakan Kehidupan.

Catatan perjalanan ke Iceland Airwaves 2012-2013

Pertanyaan yang paling saya ingat ketika itu adalah dari teman saya Jon Gustafsson, seorang sutradara asal Iceland, dia tanya “Berapa jam penerbangan kamu kemari? Kenapa dan apa yang membawamu kesini?” Dan kamipun menjadi akrab sebagai teman baik sampai sekarang.

Kenapa saya harus mengunjungi Iceland negeri bangsa Viking yang orang sebut tanah api dan es, pulau kecil dengan banyak gunung vulkanik, pertemuan lempeng pegunungan amerika utara dan eropa. Pulau yang terpencil diantara Faroe Island dan Greenland. Tahun 2012 sewaktu disana saya sudah merasakan yang namanya angina kencang dan dingin yang hebat akibat dampak badai Sandy dari Amerika.

Dibandingkan Indonesia yang sudah mendunia sejak lama karena rempah-rempah yang kemudian didatangi para petualang, pedagang dan penjajah. Nyatanya negeri Viking yang masih seperti sebuah pulau layaknya satu pulau kecil di Nusantara ini kini lebih maju dan kreatif dari Indonesia. Negeri yang mereka bilang Negara paling damai, aman, bebas polusi sedunia dan yang lebih mencengangkan adalah keterbukaan mereka pada persamaan gender.

Untuk mendatangi Iceland saya tidak memiliki harapan yang berlebihan, data-data hanya saya ketahui dari internet, website dan email dari teman-teman baru saya terutama para produser, musisi dan festival organizer. Saya selalu membayangkan Iceland sebagai sebuah dunia yang sangat unik dan terpencil secara geografis. Negaranya orang Viking, yang katanya menurut sejarah keras dan kejam. Saya mendarat di Kevlavik pertama kali di tahun 2012 untuk merasakan bahwa Iceland yang sebenarnya.

Bagi sebagian orang di Indonesia yang belum mengerti apa itu Iceland akan merasakan bagaimana kepribadian dan perasaan bangsa ini setelah bertemu mereka. Mereka adalah bangsa yang pandai merayakan kehidupan dan mempunyai pribadi yang sangat kekeluargaan dibalik wajah dan brewok mereka yang sangar.

……

Berikut bagaimana dan apa yang saya alami selama di Iceland pada tahun 2012-13. Festival music ini diadakan di akhir bulan Oktober dan awal November untuk mengisi kegiatan kesenian di kota Reykjavik untuk mendorong wisatawan mengunjungi Iceland.

Menginap di sebuah Guest house Eric The Red di jalan Eiriksgata 6 yang dikelola Edan dda Runar Sigurdsson, pasangan ini adalah mantan guide wisata. Mereka sangat bersahabat, suka ngobrol-ngobrol, usia merekapun sudah lanjut namun tetap tampak bersemangat mengelola guesthouse ini. Mereka berdua sudah menjadi keluarga buat saya dan serasa menjadi bagian dari mereka. Guest house ini dekat sekali dengan gereja Lutheran terbesar di Iceland namaya Hallgrimskirkja.

Pada tahun 2012 pertama kali saya bertemu Kamilla Ingibergsdottir, PR & Marketing Iceland Airwaves. Disambut dengan baik dan mendapatkan Media Pass, Photo dan Press wristband, serta tiket nonton Sigur Ros. Kamilla sangat baik dan sekarang dia menjadi manager band Of Monsters and Men.

Ada momen yang sangat saya kenang ketika berada disana, saat saya berjalan sepanjang downtown dan menanyakan jalan menuju KEX Hostel pada seseorang yang sedang memarkir mobilnya. Anak muda itu bilang “Kalo mau nunggu saya 5 menit saja untuk mengantar kotak-kotak ini ke toko itu, kalian akan saya antar kesana.” Namanya Sid dari Record Records, dia akan mengantarkan kami ke KEX untuk menonton Soley. Setelah menonton dan merekam penampilan sederhana dan singkat dari Soley di lobby KEX Hostel ini, saya juga bertemu dengan Carry, volunteer dari Seattle KEXP 90.3 FM, dia bilang pernah belajar gamelan di Boston.

Sungguh terasa look and feel dari festival music Iceland Airwaves ’12 dan ’13 di kota Reykjavik ini dimiliki oleh seluruh penduduk Reykjavik. Dan mereka merayakannya bersama-sama sebagai pesta milik mereka. Hal seperti juga saya rasakan saat saya mengunjungi Montreux Jazz Festival ke 46 di tahun 2012 yang lalu, di kota kecil ini terlihat seluruh elemen kota serta window display toko-toko bertemakan Jazz. Sungguh kerjasama dan koordinasi yang baik dari pemerintahan di kota-kota ini.

Apalagi saat saya diundang masuk ke dalam Eldhus untuk menyaksikan band legendaris reggae Iceland, Hjalmar. Didalam rumah kecil itu hanya boleh muat 4 orang saja, no photo ataupun video. Tapi kami dikasih kesempatan untuk memotret dan merekam sebentar sebelum on-air. Ide ini dibuat oleh Inspired by Iceland dan disiarkan melalui website serta big screen yang ada di dinding Center Hotel. Menyenangkan sekali berada didalam Eldhus dan menikmati santainya mereka serta music mereka yang walupun reggae tapi masih terdengar khas Iceland. Malam harinya saya menyaksikan Ulfur di Harpa Kaldalon, Musik mistis elektronik eksperimentalnya sangat menyita tensi saya, dan saya akui ini juga music alternative yang keren. Kemudian saya lanjutkan menonton Magnus Leifur yang membawakan alternative rock yang enerjik serta terasa baru style ini terdengarnya.

Bertemu dengan Olafur Arnalds adalah sebuah keajaiban bagi saya. Ketika datang suasana sudah penuh sesak, dan saya mendapatkan posisi foto dan rekam video yang agak tanggung. Merekam pertunjukan Olafur saya sempat menangis ketika dia memainkan lagu Ljósið (The Lights). Setelah show dia di lobby KEX Hostel selesai saya kebetulan berpapasan dengan Olafur dan saya langsung say hello, saya dari Indonesia… Dia jawab “Find me in 20 minutes”. Saya kembali lagi ke artist room dimana Olafur sudah selesai makan siang, saya menyapa dia dan memberi tahu tentang e-mail yang saya kirim ke dia, dengan sopannya Olafur Arnalds pun minta maaf ngga bisa balas e-mail saya karena kesibukan tour Eropa yang dia lakukan bulan lalu. Namun dia sangat bersedia untuk di interview. Sungguh baik sekali orang ini.

Saya interview Olafur Arnalds dengan lancar walaupun saya harus menyiapkan kamera dan mic sendiri serta mewawancarai dia sehingga obrolan serasa lebih nyaman. Dia sangat senang sekali bertemu saya yang jauh-jauh dari Indonesia untuk ngobrol bersama dia.

Menikmati music dari Ulfur Eldjarn bersama teman-temannya sangat mengasyikkan, musik yang keren dan semua dari organ plus pemain drum. Hilhur manager Apparat Organ Quartet memberi info bahwa mereka belum bisa interview. Tapi saya melihat Ulfur Eldjarn dan teman-temannya mengemasi barang mereka sendiri-sendiri tanpa crew. Saya sempat menghampiri Ulfur Eldjarn dan berkenalan. Kemudian malamnya saya menonton gig Elektro Guzzi yang keren dan enerjik di saat udara dan angina yang sangat dingin. Setelah merekan penampilan mereka di Sirkus Port itu saya dapat kesempatan untuk interview mereka. Interview berjalan sangat lancar setelah kita mencari tempat yang tepat untuk ngobrol. Elektro Guzzi tampak sangat senang dengan materi interview saya, kata Reini, biasanya band ini agak susah dengan para jurnalis, tapi kali ini mereka senang sekali dengan interview saya.

Esok harinya saya menuju City Hall dalam cuaca yang buruk karena dampak badai Shandy dari Amerika telah melewati Iceland. Di city hall kami bertemu dengan menteri kebudayaan yang ngobrol dengan santai, kemudian walikota Reykjavik Jon Gnarr datang dan memperkenalkan diri dan bercerita tentang pandangan dia bersama the best party yang dia buat serta bagaimana dia running the city of reykjavik. Kemudian kami dari gurp media dan press mengunjungi sebuah opera house tua di pusat Reykjavik menikmati Reyka vodka dan menonton Mugison Show bersama Cheek Mountain Thief, Sindri dari Sin Fang, Mr Silla, dan Bartonar Kallarkor Kaffibarsins dengan konduktor Jon Svavar Josefsson.

Saat yang menarik ketika saya ke Blue Lagoon pemandian air panas dengan pemandangan batuan alam serta pembangkit tenaga listrik panas bumi di kejauhan… udara yang sangat dingin kolam air panas sungguh sensasi yang mengagumkan… ditambah lagi disana ada pertunjukan music khusus dari DJ Margier, Fridfinnur aka Oculus, Daniel Agust dari Gus Gus, Sisy Ey – penyanyi yang berkolaborasi seperti Beta, Elin og Sigga.

Puncaknya adalah saat menonton Sigur Ros di tempat asalnya… harapannya menonton mereka di suasana outdoor dan kali ini hanya dalam sebuah hall yang besar. Openingnya sangat keren dengan setting panggung yang sangat grafik dengan tata lampu yang dramatis. Agak pertengahan mulai agak drop karena mulai konsisten sama, kemudian Sigur Ros memberikan break seolah tampak selesai, dan kemudia mereka kembali dengan gebrakan untuk mengangkat suasana sampai selesai di lagu terakhir yang mereka mainkan.

Hari-hari terakhir dalam kunjungan di tahun 2012 saya menuju took musik 12 Tonar dan bertemu Larus Johannesson untuk interview. Kami ke ruang bawah, ruang kantor kecil sekaligus gudang tempat kami bisa ngobrol panjang dengan leluasa. Kemudian saya melakukan perjalanan dalam trip yang namanya Golden Circle melihat-lihat air terjun Gullfoss, Strokkur Geysir, air terjun Selfoss, Thingvellir national park melewati daerah parlemen outdoor masa lalu, kemudian melewati daerah pertemuan patahan Eropa dan Amerika seolah seperti perbatasan secara geologis antar dua benua. Kembali ke Reykjavik dan janji bertemu dengan Ulfur Eldjarn di Hotel Marina, Akhirnya saya dapat bertemu dan interview Ulfur salah satu member Apparat Organ Quartet. Dia juga memberi saya CD music hasil eksperimental dia. Kami pulang ke guesthouse dan dibuatkan dinner oleh Edda dan Runar, hadir juga menantu dia menemani kami malam itu. Dinner yang sangat enak khas Viking yaitu, Ikan haddock, roti, kentang rebus, salad dan wine. Serta dessert buatan Edda yang sangat enak.

……

Berikut beberapa review dari Iceland Airwaves 2013. Salah satu tempat festival adalah Harlem, tempat saya berakhir di sana setiap malam dan menemukan suasana yang cocok. Saya di festival ini hadir sebagai media, saya merasa istimewa dan beruntung bisa mendapatkan akses barisan depan di pit fotografer di sebagian besar tempat-tempat pertunjukan. Saya ada di sana dengan kamera di antara banyak fotografer mancanegara dan mencoba menemukan momen yang mengesankan lewat foto dan video. Foto-foto yang saya juga mencakup pertunjukan off–venue yang memang gratis untuk umum dan berlangsung setiap hari sampai malam di Reykjavik, ada yang diadakan di toko-toko, butik, toko buku, kafe dan bar. Beberapa tempat khusus tampak antrian dari luar dan kadang pengunjung hanya mendengarkan musik dari luar venue saja. Itu saja sudah cukup luar biasa.

Perjalanan kali ini terasa sangat berbeda karena saya ingin focus ke sesuatu yang beyond Iceland Airwaves ’13. Saya dapat mewawancarai Jonas yang ternyata adalah seorang rockstar terkenal di Iceland di tahun 70’an. Saya ingin bertanya tentang apa yang dia alami di masa lalu, dan diapun berkata… “what happen in the past… stays in the past…”

Sekilas Tentang Jónas R Jónsson – Fiðluverslun & Viðgerðir : ahli reparasi biola.

Saya duduk menghadap meja kerja Jonas R. Jonsson saat ia asyik bekerja dikelilingi oleh banyak alat, ia tampaknya benar-benar konsentrasi. Dia selalu bertanya apakah ia harus berhenti dan mematikan musik. Tentunya saya bilang tidak, obrolan kami akan terus berjalan. Dulu Jonas memiliki biola tua yang rusak dan dia mencoba untuk memperbaikinya sendiri, setelah sukses kemudian dia mencari beberapa biola rusak yang lainnya untuk dia perbaiki. Jonas berpikir kalau dia sepertinya harus mengubah pekerjaannya dan belajar mengenai restorasi atau reparasi biola.

Jonas telah memiliki hubungan panjang dengan music. Itu adalah dasar untuk semua ini, pada dasarnya dia lebih awal mengetahui music daripada kerajinan yang dia buat sebagai hobi. Jonas belajar di sekolah swasta kecil di Inggris. Ada ahli pembuat Violin yang terkenal Hans Jóhannsson dan Jón Marino yang bersekolah di Newark juga, dua pembuat biola terbaik dan dua guru yang baru saja mendirikan sekolah kecil mereka sendiri, yang bertepatan dengan pencarian saya untuk tempat untuk belajar restorasi biola.

Semua yang ada disini adalah alat tua yang saya punya ketika saya mulai studi restorasi biola, sekolah saya dekat Sheffield di Yorkshire. Baja yang terkenal dengan daya tahan dan kekerasan ada di Sheffield, semua alat-alat ini dibuat di sana. Saya pergi ke toko-toko antik dan penjualan sekitar daerah itu dan membeli keseluruhan peralatan saya.
Tiap hari Jonas datang ke bengkel ini sekitar jam 10.00… hari saya tenang dan tanpa stress dan di sini saya akan duduk untuk lima jam mendengarkan musik yang bagus bekerja pada sebuah biola. Dari jendela ini saya telah melihat bahwa suasana di kota telah berubah. Ini adalah sebuah kemewahan untuk dinikmati.

……

Sore hari saya menikmati bir dingin di English pub kemudian nongkrong bersama cewek inggris yang sedang kuliah di Reykjavik. Tentu pub ini membuat dia kangen kampung halaman, terutama pada saat pertandingan bola di televisi yang membuat warga inggris disini berkumpul di pub untuk menikmati pertandingan sekaligus bertemu teman. Setelah hari agak mulai gelap kami menuju pinggir danau yang airnya sudah mulai beku, memperhatikan angsa, bebek dan burung laut berkumpul. Kemudian kami ke dermaga untuk menikmati daging ikan paus panggang sebelum pulang.

Saya beruntung sekali cuaca disini sangat cerah, tidak seperti tahun lalu yang begitu drama. Matahari tetap bersinar dan langit yang super biru… tapi dinginnya begitu menusuk kalau kita salah bawa jaket. Saya berjalan menuju downtown sekitar Harpa dan secara kebetulan bertemu Kamilla yang sedang melakukan persiapan untuk Iceland Airwaves ’13.

Perjalanan panjang saya lakukan menuju daerah sisi selatan Iceland. Saya berangkat dari Reykjavik agak siang bersama 3 orang teman yang rencananya akan langsung ke Glacier Lagoon di Jokulsarlon. Selama perjalanan kami mendapatkan banyak bonus pemandangan, diantaranya melewati gunung es dan kami sempat berfoto disana… bonus lainnya adalah kami dapat melewati air terjun Selfoss, Seljalandsfoss, Skogafoss. Letak georafis sisi selatan Iceland ini berbeda dengan sisi utara, barat maupun timur, kita akan menemui landscape yang berbeda-beda dan menakjubkan, apalagi kalau di saat summer.

Dan ternyata perjalanannya sangat jauh, kami terlalu menganggap remeh jarak perjalanan, speed limitpun hanya boleh 90 km/jam, karena banyak speed kamera walaupun tak tampak terlihat polisi atau lalu lintas kendaraan lain, jalanan otomatis seperti milik kita, perhitungan kami meleset hingga hari hampir sore dan belum ada tanda-tanda sampai. Kamipun kemudian menginap semalam di daerah Fagurholsmyri di daerah petani bernama Litla Hof. Malamnya disana kami menunggu Aurora yang tampak kemudian muncul dibalik bukit jam 3 pagi dengan dingin sekitar -5 derajat saya mencoba memotret dan membuat videonya.

Hari ini petualangan baru menuju Jokulsarlon dimana kami ingin melihat Glacier Lagoon, perjalanan kesini juga lumayan cukup jauh dan kami harus parkir kemudian menaiki bukit untuk sampai ke dalam area Lagoon. Kami disini hanya beberapa jam kemudian kembali ke Reykjavik dan singgah juga di Vik dimana disana ada pantai yang berpasir hitam (black sand beach). Kamipun sampai di Reykjavik menjelang malam. Perjalanan yang cukup melelahkan.

Hari pertama Iceland Airwaves ‘13 saya menonton pertunjukan Emiliana Torrini di Kex Hostel. Pertunjukan yang sangat intim karena penonton sangat padat, membludak dan saling dempet dari restoran sampai lobby hostel ini. Saya mulai dengan menghadiri beberapa pertunjukan off – venue sebelum memulai resmi festival ini. Salah satunya Vigri di Eymundsson Bookshop. Saya berjalan di area pusat perbelanjaan. Saya tidak mendapatkan nama band ini, tapi mereka bermain di window display dari toko Cintamani. Kemudian Menonton Ylja dan 1860 bermain di Gamli Gaukurinn. Pertunjukan Mammut di Harpa, band ini punya nama besar, vokalisnya menakjubkan. Dilanjutkan dengan menonton FM Belfast, juga di Harpa, sangat menyenangkan menonton band yang super hiperaktif ini.

Hari istimewa ini saya bertemu kembali dengan Larus yang kemudian kami ngobrol di kantornya di ruang bawah 12 Tonar sambil menikmati bir lokal… Hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk interview dengan Rokurro band lokal di label teman saya Larus, 12 Tonar yang melegenda ini. Kemudian menikmati musik dari for a minor reflection yang juga main disana.

Saya bertemu Niccolò Scelfo – founder & editor in chief REYKJAVIK BOULEVARD saat menonton band Iris di salah satu café di downtown Reykjavik. Hari terakhir Iceland Airwaves ’13 saya sempatkan menonton Myrra Ros di Gamli Gaukurinn, juga Hellvar, Emmsjé Gauti di Harlem. Kemudian melihat Kraftwerk bermain di concert hall Eldborg di Harpa dengan posisi pandangan yang baik untuk menonton Kraftwerk.

Jalan-jalan ke sekitar kota sambil say good bye ke beberapa teman-teman… Saya mampir ke Reykjavik Drapers Union, tempat membuat tas sekaligus toko, disana bertemu pemiliknya untuk janji interview yang saya tak sempat lakukan namun saya dapat mengambil video tempat kerjanya yang masih dalam persiapan karena toko ini baru saja di buka, oh ya saya juga bertemu Edward Norton pemeran film fight club yang kebetulan menjadi pelanggan pertama toko ini. Malamnya saya dibuatkan dinner masakan tradisional Iceland yaitu Lamb Leg yang khas, kami makan bersama teman-teman Edda dan Runar… Sungguh menyenangkan.

Pengalaman tahun ini banyak bertambah sampai saya tak dapat membuat kata yang pantas untuk ini. Kebaikan teman-teman musisi dan label company juga media serta fotografer di Reykjavik sangat bersahabat… dan juga Ibu kos saya Edda yang baik hati karena saya tak harus bayar kos untuk 12 malam di guesthousenya, dan hal yang cukup mengagetkan ketika suatu saat saya berjalan di tengah kota Reykjavik dan tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama saya, rupanya saya sudah cukup dikenali dan teman itu adalah Roman Gerasymenko, dia adalah warga Reykjavik asal Ukraina yang menjadi fotografer disana. Juga kebaikan Larus yang sangat terbuka dan bersahabat menyediakan waktu, tempat dan bir-nya untuk mengobrol dan bercanda. Iceland… suatu saat saya pasti kembali lagi.

……

Wisdom Traveler.

Sungguh perjalanan saya ini begitu penting dalam hidup saya dan membuat riset pribadi saya tentang film seni dan budaya makin berwarna. Setelah melakukan perjalanan dari ujung utara dan selatan dunia serta beberapa benua di dunia. Saatnya saya bercermin kembali ke Indonesia. Mengangkat kembali local wisdom dan bisa kita perkenalkan pada dunia sebagai kepribadian yang baik bangsa kita. Sekarang taka da lagi batas Negara, segalanya kita dapai capai dalam hitungan detik lewat internet, dan kita harus merasa bahwa kita adalah salah satu warga dunia.

Indonesia dan Iceland sebenarnya hampir sama. Ya, sama-sama merasa hidup di kepulauan dengan memiliki bahasa-bahasa etnis. Bedanya adalah pada budaya dasar dan bagaimana budaya itu berkembang atau dibuat berdasarkan perkembangan jaman. Layaknya budaya K-Pop yang melanda Indonesia dan mungkin dunia. Budaya yang berbeda dengan budaya etnis asli Korea, tapi budaya ini diciptakan untuk tujuan Negara dan kesejahteraannya.

Musik dari Negara Iceland pun sangat disukai di seluruh dunia, dari Bjork, Sigur Ros dan musisi lainnya yang berasal dari pulau kecil ini. Bahasanya tidak kita mengerti sedikitpun dan musiknya seakan membuat kita kesepian, bermimpi, sedih atau bahkan ingin bunuh diri. Orang sedunia menerawang dan merasa ingin mengunjungi Iceland yang terpencil dan sangat dingin itu. Hal ini ternyata adalah bagian dari usaha pemerintah dan juga pengelola kota dan budaya untuk memperkenalkan Iceland kepada dunia melalui seni dan budaya, begitu juga halnya dengan Korea dengan agresif memajukan budaya K-Popnya. Sungguh usaha yang tak terkira track recordnya apabila kita melihat ke belakang bagaimana kedua negara ini merencanakan dan mengembangkan ide-ide ini dengan matang.

Jelas jika kita harusnya tidak hanya membahas sisi luar sebuah kebudayaan, tapi juga yang lebih penting lagi adalah cara pikir bahkan mungkin peradaban. Kebudayaan masa lalu dan masa sekarang bisa kita kelola dengan baik dan benar, sehingga kita tidak disebut begitu terbelakang bahkan bisa disebut primitive dan hanya berkutat pada perasaan, pernyataan yang membuat kita besar kepala bahwa kita adalah bangsa yang besar, multi etnis dan multicultural.

Apakah kita benar-benar bangsa yang tertinggal atau terbelakang atau masih tertidur nyenyak? Kita membutuhkan budi pekerti, pola pikir serta pemahaman yang baik mengenai budaya kita, cara mempertahankannya dan bagaimana mengembangkannya.

……

When you travel, just remember this… “The beauty is within the human, the scenery is just the background.”

……

(Agus Makkie – Wisdom Traveler. Jakarta 21 Desember 2015.)

Iceland Airwaves ’12

What Life Sounds Like When It Echoing at The Corner of The Spheres

Music Documentary
Shot and Directed by Agus Makkie

An inspiring 20 minutes “Do It Yourself” documentary film of Iceland Airwaves ‘12 music festival and the musician who participate in it. Directed by Agus Makkie a freelance film director from Indonesia; produced by himself in collaboration with his team, Icelandic and European musician. All the scenes, interview, live music was filmed on the peaceful place on earth, Reykjavik in November ’12.

Reykjavík is a small city with population slightly more than 320,000 people. Downtown area where the festival is held isn’t more than a few blocks long in every direction. This means that it’s inevitable that fans and industry people and musicians alike will cross paths all week long. From enjoying Icelandic food, running from venue to venue to catch numerous amazing musical sets, sitting down and talking with artists or even just exploring Iceland’s beautiful country side, Iceland had much for us to discover.

When words leave off, music begins. ~ Heinrich Heine

Reykjavik Boulevard

http://www.reykjavikboulevard.com/iceland-airwaves-2012-documentary/

Inspiration. Dreams. Passion. Talent. Art… Memories. We do believe in that kind of thing, here on Reykjavik Boulevard.

Our friend and important contributor from South-East Asia, AGUS MAKKIE, realized something special for all the Iceland Airwaves fans.

An inspiring 20 minutes “Do It Yourself” documentary film of Iceland Airwaves ‘12 music festival, the bands, the festivalgoers and the city, directed by Agus himself in collaboration with his team, Icelandic and European musicians and Reykjavik Boulevard. All the scenes, interview, live music were filmed on the most peaceful place on earth, Reykjavik in November ’12.

What Life Sounds Like When It Echoing at The Corner of The Spheres

An inspiring 20 minutes “Do It Yourself” documentary film of Iceland Airwaves ‘12 music festival and the musician who participate in it. Directed by Agus Makkie a freelance film director from Indonesia; produced by himself in collaboration with his team, Icelandic and European musician. All the scenes, interview, live music was filmed on the peaceful place on earth, Reykjavik in November ’12.

……

Airwaves has a solid reputation of bringing the best Icelandic and international acts on the cusp of greatness and public awareness, and this year the fest is back to do their thing for five very cold and dark days and nights. In their eloquent words:
It’s 4 a.m. You’ve been to five cool clubs, seen ten great bands, made fifteen new friends and fallen in love twenty times. You’re tired. You’re wired. You’re ready to find a bed. You’re ready to find the after-party. You can’t believe you’re here. You’re already making plans to come back next year. And guess what? It’s still Day One.
I’m in Iceland to cover Airwaves (flew out of Seattle to get here, no thanks to hurricane Sandy) for your vicarious enjoyment, so be sure to “like” Nordic Spotlight on Facebook to both keep you connected to the action and to make you insanely jealous.

Reykjavík is a small city— with slightly more than 119,000 people. The downtown area where the festival is held isn’t more than a few blocks long in either direction. This means that it’s inevitable that fans and industry people and musicians alike will cross paths all week-long.

From enjoying the Icelandic food, running from venue to venue to catch numerous amazing musical sets, sitting down and talking with artists or even just exploring Iceland’s beautiful country side, Iceland had much for us to discover.

The Iceland Airwaves Music Festival is an event that brings artists from around the world to grace the stages of venues in Reykjavík, Iceland. Here are some artists from the lineup this year that we included in our on-air preview (with links to our interviews and reviews from the fest): Apparat Organ Quartet, FM Belfast, Ólafur Arnalds

Samaris

I’m a huge fan of electronic music. I’m constantly on the lookout for electronic music that’s both progressive and organic, especially if it amalgamate unconventional sampling and tasty beats. After perusing the enormous lineup for Iceland Airwaves, I stumbled upon a band who could satiate my appetite and delivered something worthwhile. The band is called Samaris, an electronic trio composed of three young students who include a clarinet player (Áslaug Rún Magnúsdóttir), a vocalist (Jófríður Ákadóttir), and a computer programmer (Þórður Kári Steinþórsson). Together they create songs that call to mind experimental electronic, post-dubstep, and downtempo (e.g. Zola Jesus, Mount Kimbie, Tricky). Below you’ll find a music video for their song “Góða tungl’” off their Hljóma Þú EP.

Agent Fresco

After months of excitedly exploring the lineup for Iceland Airwaves 2012, I finally found a band I can really sink my teeth into. Don’t get me wrong, the amount of acts I’m ready to cover at Airwaves is an overwhelming list of hip-hop, electronica and rock, but there’s something about the seamless display of sonic contrast that Reykjavík’s Agent Fresco rocks. At one moment you’re being blissfully lulled by vocalist Arnór Dan Arnarson’s floating vocals and swaying instrumental melodies. Soon after, however, the serenity is morphed into a fleeting wall of crunching guitars and stuttering drum rhythms that are hard-hitting enough they sound like they could cause a shift in the tectonic plates beneath Iceland’s surface.

FM Belfast

Less a band and more of a musical community, FM Belfast was formed in 2005 by Lóa and Árni Rúnar Hlöòversson in Reykjavík, Iceland. Playing their first Iceland Airwaves Music Festival in 2006, the band is now supplemented by about three to eight additional members, depending on their availability – most of the band is involved in several other musical endeavors at any given time. Since their inception, FM Belfast has released two albums: How to Make Friends in 2008 and Don’t Want to Sleep in 2011.
FM Belfast utilizes catchy synth hooks and driving, bombastic drums to create an upbeat and exciting musical experience. Far from the floating, ethereal style of iconic Icelandic acts like Sigur Rós, this music will make you stamp your feet and throw your hands in the air. The dreamy sound effects color generally fast-paced tracks reminiscent of bands like Two Door Cinema Club and Passion Pit, while the combination of male and female vocals keeps the music fresh and evocative.

Apparat Organ Quartet

Four electrifying keyboardists and one rhythmic drummer from the energetic five-piece Reykjavík-based band, Apparat Organ Quartet. Apparat Organ Quartet are visionaries within their own genre, using everything from short-circuited Casio keyboards, malfunctioning hammonds, and custom homemade organs to produce what they call “Machine Rock and Roll.” Their lyrics are distorted by vocoders producing Daft Punk like vocals and providing a video-game ambience to their digital rock sound. Despite their inaudible lyrics, you don’t have to understand what they’re saying in order to feel the pulsating energy apparat Organ Quartet orchestrates.
Band member Jóhann Jóhannsson formed the group in September of 1999. Apparat Organ Quartet first began exploring with experimental improvisations that they performed as a series of concerts, laying down the foundations for their future sound through minimalist works. Slowly their music evolved, as the group took pride and passion into physically creating every noise and glitch composed within their songs. No computers or sequencers are used to create their digital symphonies.
The band finally released their self-titled album in 2002, revving up the engines for an unstoppable career. In 2010, they jumped back into the music scene with their second album Polyfonia, which created significant buzz amongst Icelandic critics. Polyfonia was the masterpiece and the final product of what the band had worked so hard to achieve. It features beautiful organ solos, riveting synthesized explosions, and distortion. After signing with the Crunchy Frog label, their music is beginning to spread worldwide.
Apparat Organ Quartet has traveled across the world, rocking their futuristic sound from New York City’s “ Central Park Summer Stage” to London’s ICA and the Roskilde Festival in Denmark. Apparat Organ Quartet will likely blow the stage away at the 2012 Iceland Airwaves Music Festival and I can’t wait to be a part of the madness. Check out one of my favorite songs off their album Polyfonia, “1,2,3, Forever.”

Nóra

When Iceland comes to mind, possibly the last thing someone thinks of is an annual music festival. I’ve been blessed with the opportunity of going to Iceland this year to cover the Iceland Airwaves Music Festival and am very excited to see the band Nóra. A mix of guitars, keys, samples, and drums, this band from Iceland puts it all together and forms something marvelous. With light, upbeat melodies and a mix of sibling harmonies their music was made to ease the soul.

Ólafur Arnalds

I am incredibly excited to see is Ólafur Arnalds. Ólafur combines classical music with electronic beats to create music that stands out to music lovers around the world. He is a 25-year-old multi-instrumentalist that preforms live on the piano, but is accompanied by strings, which creates a beautiful melodic harmony that can send goose bumps down your spine and bring a tear to your eye. I am extremely excited about Iceland Airwaves, and Ólafur is one artist festival I plan to catch.
There, classical composer and pianist, Ólafur Arnalds performed an alluring set. Accompanied by a talented violinist and cellist, the trio performed his pieces, “Gleypa Okkur” and “Near Light,” and had the audience in a trance. Arnalds’ compositions are absolutely moving. His last piece he performed solo on a beautiful grand Fazioli piano, and it was written for someone he missed dearly; his grandmother. As the last notes were fading out, you could faintly hear the violinist echo the melody backstage. To me, that particular piece was a memento in music, a symbol of missing someone immensely. My heart broke and I could feel my eyes starting to tear… never have I been so moved.

Nolo

As the growing adrenaline and suspense kicks in, I have been hyping myself up by jamming out to native Icelandic bands. One of the many great Icelandic acts that are performing at Iceland Airwaves is Nolo, a two man band consisting of Nonnji Lorange and Ivör Björnsson. This band combines sounds of a guitar, a beat machine, and two old fun machines they found at a secondhand shop.
This isn’t the band’s first time performing at Iceland Airwaves, in fact they rocked Airwaves last year. The thing that attracts me to them is their lo-fi, basement sound and in fact the two usually record in Ivor’s basement with one microphone. The underproduced sound is actually quite organic. Their instrumentation creates a splashy texture with each instrument complementing the other.

Sykur

“I feel like we’re all in a big elevator,” singer Agnes Andradóttir joked as Sykur got set to play at Sirkús Port. The tiny bar was jam-packed; people were standing on couches, tables, anything they could find to get a better view of the Icelandic electro four-piece, who filled the few spaces between people with hard-hitting sound. Andradóttir’s fantastic, growling voice carried cleanly over the group’s dirty beats and punching synths. The band ripped through a half hour set to an appreciative crowd who called for more after every track.

Retro Stefson

By far the funkiest band at Airwaves, Retro Stefson owned the stage – all eight of them. Slap-happy bass, obese synths, and a singer with more charisma than a politician all made Retro Stefson a balls-to-the-walls experience that could scarcely be rivaled. Calling for the audience to throw their shirts on stage, the band also insisted that “You have to be sexy at Iceland Airwaves!” They blasted through funkadelic numbers in quick succession, always moving, frontman Unnstein Stefánsson dancing with such intensity that he seemed to be cast from pure energy. After the band was satisfied they had enough shirts on stage, they called for the audience to back, back, back up, widening the gap between the audience and the stage in order to make room for one of the band members to jump down and start breakdancing. Naturally, everyone went berserk. The band made time for each instrumentalist to take a featured solo; each displayed virtuosic chops and showed he or she could work just as well in a prominent role as in a secondary. With final calls of “Harpa, you gotta be sexy tonight!” the band left the stage to thunderous applause.

GusGus

One of Iceland Airwaves’ original acts, GusGus has been playing the festival since its inception in an airplane hangar back in 1999. These guys (and girl) have been playing huge festivals like this since before most of the current bands on the bill have existed, and GusGus showed why they are still major players in the Icelandic music scene. Members of the audience were screaming for the group as soon as their openers finished, and the minute the first teeth-rattling bass note hit, it was absolute chaos on the floor. Each member of the band wore a genuine smile as the venue shook with bass and dancing; singer Daníel Haraldsson owned the stage, dancing on monitors and playing to the crowd, who obviously adored him. GusGus proved that they have not lost a step.

———–

Electro Pop

BOTTLESMOKER

Experimental music in electro pop – indietronic instrumental

Bottlesmoker are from Bandung, Indonesia. They use toy musical instrument and custom equipments, the sounds are so unique with a hint of catchy pop music. Bottlesmoker produces self-made instrument with a bending circuit process, they love toy musical instruments such as Glockenspiel, Hand Bell, Melodica, and any toys that produce any sounds like Toy Phones, Radio, Nintendo DS.

This duo made custom music instrument such as Noise Box, Theremin, 8 Step Sequencer, they produce such a characterized sounds that no other musicians have. Bottlesmoker did all the production, distribution and promotion. Writing all the songs in their rooms. They recorded, mixed, and mastered the songs using their own computer. People have been talked of their successfully Out of The Bedroom Musician, inspired other Bedroom Musicians to actually go public, out of the comfort of their rooms.

bottlesmoker.asia